Sabtu, 07 Februari 2015

Kelainan Kongenital pada bayi baru lahir

KELAINAN KONGENITAL PADA BAYI BARU LAHIR













Oleh :
Mustikaning Bethari Purnaninggalih
P27824414001




KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURABAYA
JURUSAN KEBIDANAN
PROGRAM STUDI D4 KEBIDANAN SUTOMO
SURABAYA
2014/2015


A.      Sistem saraf
1.        Neural Tube Defects  (NTD)
NTD adalah keadaan abnormal pada janin dengan kondisi pertumbuhan susunan saraf pusat yang tidak sempurna, cacat juga bisa terjadi pada tabung syaraf janin. Kasus Neural Tube Defects (NTD) terjadi akibat perkembangan tidak normal selama pembentukan gestasional. Dengan kata lain NTD adalah cacat bawaan pada syaraf sumsum tulang belakang dimana pembuluh syarah tidak dapat menutup dengan sempurna.

a.    Anencepahly   : tidak ada kubah tengkorak atau otak yang amat menyusut dan melekat pada dasar tengkorak (90% dari kasus NTD)

b.    Spina bifida     : tulang belakang tidak menutup


c.    Encephalocele : radang otak (10% dari kasus NTD)

2.        Hidrocephalus
Hidrochepalus adalah sebuah kondisi yang disebabkan oleh produksi yang tidak seimbang dan penyerapan dari cairan cerebrospinal (CSF) di dalam sistem Ventricular. Ketika produksi CSF lebih besar dari penyerapan, cairan cerebrospinal mengakumulasi di dalam sistem Ventricular.
Penyebab dari hidrosefalus adalah : Kelaianan bawahan( Konginetal ), Infeksi, Neoplasma, Perdarahan.

3.        Microcephalus
Microcephaly (Microcephalus) adalah kondisi neurologis yang jarang terjadi di mana kepala bayi secara signifikan lebih kecil dari kepala anak-anak lain pada usia dan jenis kelamin yang sama. Microcephaly biasanya adalah hasil dari perkembangan otak tidak normal di dalam rahim atau tidak tumbuh sebagaimana mestinya setelah melahirkan.

A.      Mata
1.        Anophthalmia/microphthalmia
Anophthalmia adalah tidak adanya mata penyembuhan satu atau tulang, sedangkan Microphthalmia adalah gangguan di mana satu atau penyembuhan tulang mata abnormal kecil. Gangguan langka ini berkembang terus-menerus kehamilan dan dapat dikaitkan dengan cacat lahir lainnya.

2.         Katarak kongenital
Katarak kongenital adalah katarak yang mulai terjadi sebelum atau segera setelah lahir dan bayi berusia kurang dari satu tahun. Katarak kongenital merupakan penyebab kebutaan pada bayi yang signifikan terutama akibat penanganan yang kurang tepat.

3.        Glaukoma kongenital
Glaukoma kongenital adalah suatu keadaan dimana terdapat tekanan bola mata yang meninggi, yang akan menimbulkan kerusakan pada mata dan memburuknya tajam penglihatan pada waktu permulaan masa bayi atau pada masa kanak-kanak.

B.       Telinga, Wajah, dan Leher
1.        Aniotia
Anotia adalah suatu cacat lahir bawaan yang ditandai dengan hilangnya bagian terluar dari telinga (daun telinga) yang bisa terjadi pada satu telinga atau keduanya. Meskipun demikian, biasanya hanya satu telinga yang terkena dan hal ini lebih sering terjadi pada telinga kanan. Kondisi ini diyakini disebabkan oleh penurunan aliran darah sewaktu perkembangan janin. Anotia menyebabkan tuli yang berat pada telinga yang terkena. Fungsi dari telinga dalam tetap normal, tetapi suara tidak dapat dihantarkan ke telinga dalam karena adanya kelainan struktural pada telinga luar yang menahan suara untuk memasuki sistem pendengaran.

C.      Penyakit Jantung Bawaan
1.        Truncus Arteriosus
Truncus Arteriosus adalah malformasi kardiovaskular kongenital dimana hanya terdapat satu pembuluh arteri utama yang keluar dari basis jantung dan mengalirkan darah kearteri koroner, pulmonal dan sitemik, serta hanya terdapat satu katup (trunkus) semilunar. Kelainan ini jarang ditemukan.

2.        Ventrikel Tunggal
Kelainan ini disebut juga ventrikel bersaluran masuk ganda. Secara anatomic ada 3 kemungkinan bentuk. Pertama: ventrikel tunggal tersebut terdiri atas anatomic ventrikel kanan dan kiri, tanpa sekat. Kedua: ventrikel tunggal tersebut hanya terdiri atas anatomik ventrikel kiri, sedang ventrikel kanan hipoplasi. Ketiga: ventrikel tunggal tersebut hanya terdiri atas anatomik ventrikel kanan, sedang ventrikel kiri hipoplasi.

3.        Ventricular  Septal  Defect
Ventricular Septal Defect (VSD) adalah kelainan jantung berupa tidak sempurnanya penutupan dinding pemisah antara kedua ventrikel sehingga darah dari ventrikel kiri ke kanan, dan sebaliknya. Umumnya congenital dan merupakan kelainan jantung bawaan yang paling umum ditemukan.

4.        Atrial Septal Defect
Atrial Septal Defect (ASD) adalah kerusakan antara kedua ruang atas jantung (atrium). Kerusakan ini menyebabkan percampuran darah beroksigen dengan tidak beroksigen, yang akhirnya mengakibatkan jantung kanan membesar dan tekanan tinggi pada paru-paru (hipertensi pulmonal).

5.        Atrioventricular Septal Defect
Atrioventracular (AV) Canal adalah suatu keadaan dimana terdapat “ defect” besar pada dinding pemisah pada jantung bagian atas mulai dari batas atas jantung bagian bawah. Sehingga katup tricuspid dan katup mitral tidak terbentuk secara sempurna.

6.        Tetralogy of Fallot
Tetralogy of Fallot yaitu suatu keadaan terdapatnya 4 kelainan struktur jantung yaitu :
1.    Ventricular septal defect
2.    Pulmonary stenosis
3.    Overriding aorta
4.    Hypertrophy (enlargement) of the right ventricle.
Merupakan kelainan jantung bawaan tipe sianotik, dimana tubuh tidak mendapatkan darah bersih yang memadai. Tindakan operasi merupakan jalan keluarnya.

Stenosis Katup Trikuspidalis
Stenosis Katup Trikuspidalis (Tricuspid Stenosis) merupakan penyempitan lubang katup trikuspidalis, yang menyebabkan meningkatnya tahanan aliran darah dari atrium kanan ke ventrikel kanan. Stenosis katup trikuspidalis menyebabkan atrium kanan membesar dan ventrikel kanan mengecil. Jumlah darah yang kembali ke jantung berkurang dan tekanan di dalam vena yang membawa darah kembali ke jantung meningkat.  


7.      Anomali Ebstein / Ebstein’s Anomoly
Anomali Ebstein adalah suatu kerusakan katup kongenital yang jarang terjadi yang ditandai dengan trikuspid yang tidak berfungsi dengan baik dikarenakan lokasinya yang abnormal di jantung. Katup trikuspid adalah katup jantung yang terletak diantara ruang jantung kanan atas (atrium kanan) dan ruang jantung kanan bawah (ventrikel kanan). Pada Anomali Ebstein, posisi katup trikuspid ini lebih bawah, masuk ke dalam ventrikel kanan sehingga menyebabkan bagian atas dari ventrikel kanan menjadi bagian dari atrium kanan. Kelainan ini memperlebar atrium kanan dan menyebabkan katup ini tidak berfungsi dengan baik, sehingga memungkinkan terjadinya aliran balik darah dan menyebabkan jantung tidak memompa dengan efisien.

8.      Stenosis katup pulmoner
Stenosis Katup Pulmoner adalah suatu penyempitan atau penyumbatan pada katup pulmoner. Katup pulmoner adalah katup pada ventrikel kanan jantung, yang akan membuka untuk mengalirkan darah ke paru-paru

9.      Atresia katup pulmoner
Atresia Pulmoner adalah suatu kerusakan katup jantung bawaan yang ditandai dengan pembentukan abnormal dari katup pulmoner. Katup pulmoner terletak diantara ruang jantung kanan bawah (ventrikel kanan) dan arteri pulmonalis (sebuah pembuluh arteri yang mengangkut darah dari jantung ke paru-paru). Katup ini tersusun atas tiga daun katup yang membuka dan menutup untuk mengatur aliran darah dari ventrikel kanan ke aorta. Pada atresia pulmoner, sebuah lapisan jaringan yang padat terbentuk pada pembukaan katup, menutupi katup.

10.    Stenosis/atresia katup aorta
Stenosis/atresia katup aorta adalah suatu penyempitan atau bahkan penyumbatan katup aorta.

11.    Hipoplastik jantung kiri atau kanan
Sindroma Ventrikel Kiri atau Kanan Yg Tidak Berkembang (Sindroma Hipoplastik Jantung Kiri atau kanan) adalah suatu keadaan dimana bagian kiri atau kana jantung tidak berkembang.

12.    Coarctation of aorta
Coarctation aorta adalah suatu kondisi bawaan yang umum ditandai oleh penyempitan dari aorta, pembuluh darah utama meninggalkan jantung. Aorta menyempit mengurangi aliran darah ke ekstremitas bawah dan menyebabkan gagal jantung pada bayi. Kondisi ini dapat didiagnosis pada saat lahir atau pada anak usia dini, di mana saat itu dapat diperbaiki dengan operasi, perbaikan bedah namun sangat berisiko pada bayi prematur.

13.  Total anomalous pulm venous return
Total Anomalous Pulmonary Venous Return (TAPVR) adalah penyakit jantung bawaan (muncul sejak lahir) di mana tidak satu pun dari empat vena yang membawa darah dari paru-paru ke jantung melekat ke atrium kiri.

D.      Pernafasan
1.Choanal Atresia
Choanal atresia adalah penutupan satu atau kedua koana oleh membran abnormal atautulang. Penutupan dapat parsial atau total.

E.       Oro-facial cleft
1.    Cleft lip/bibir sumbing
Bibir sumbing (cleft lip) adalah kelainan berupa celah pada bibir atas yang didapatkan seseorang sejak lahir. Bila celah berada pada bagian langit-langit rongga mulut (palatum), maka kelainan ini disebut cleft palate. Pada cleft palate, celah akan menghubungkan langit-langit rongga mulut dengan rongga hidung. Ada tiga jenis kelainan cleft, yaitu:
A.    Cleft lip tanpa disertai cleft palate
B.     Cleft lip disertai dengan cleft palate
C.     Cleft lip disertai dengan cleft palate
D.    Cleft palate tanpa disertai cleft lip

Sekitar separuh dari semua kasus cleft melibatkan bibir atas dan langit-langit sekaligus. Celah dapat hanya terjadi pada satu sisi (unilateral) atau pada kedua sisi (bilateral) bibir. Cleft lip dan cleft palate terbentuk saat bayi masih dalam kandungan (Anonim, 2009).
Proses terbentuknya kelainan ini sudah dimulai sejak minggu-minggu awal kehamilan ibu. Saat usia kehamilan ibu mencapai 6 minggu, bibir atas dan langit-langit rongga mulut bayi dalam kandungan akan mulai terbentuk dari jaringan yang berada di kedua sisi dari lidah dan akan bersatu di tengah-tengah. Bila jaringan-jaringan ini gagal bersatu, maka akan terbentuk celah pada bibir atas atau langit-langit rongga mulut. Sebenarnya penyebab mengapa jaringan-jaringan tersebut tidak menyatu dengan baik belum diketahui dengan pasti. Akan tetapi faktor penyebab yang diperkirakan adalah kombinasi antara faktor genetik dan faktor lingkungan seperti obat-obatan, penyakit atau infeksi yang diderita ibu saat mengandung, konsumsi minuman beralkohol atau merokok saat masa kehamilan. Resiko terkena akan semakin tinggi pada anak-anak yang memiliki saudara kandung atau orang tua yang juga menderita kelainan ini, dan dapat diturunkan baik lewat ayah maupun ibu. Cleft lip dan cleft palate juga dapat merupakan bagian dari sindroma penyakit tertentu. Kekurangan asam folat juga dapat memicu terjadinya kelainan ini (Anonim, 2009).

F.       Sistem Pencernaan
1.        Atresia Esofagus
Atresia berarti buntu, atresia esophagus adalah suatu keadaan tidak adanya lubang atau muara (buntu), pada esophagus (+). Pada sebagian besar kasus atresia esophagus ujung esophagus buntu, sedangkan pada 1/4 – 1/3 kasus lainnya esophagus bagian bawah berhubungan dengan trakea setinggi karina (disebut sebagai atresia esophagus dengan fistula).
Atresia esophagus adalah sekelompok kelainan congenital yang mencangkup gangguan kontinuitas esophagus disertai atau tanpa adanya hubungan trakea.
Atresia esoofagus adalah esophagus (kerongkongan) yang tidak terbentuk secara sempurna. Pada atresia esophagus, kerongkongan menyempit atau buntu ; tidak tersambung dengan lambung. Kebanyakan Bayi yang menderita atresia esophagus juga memiliki fistula trakeoesofageal (suatu hubungan abnormal antara kerongkongan dan trakea/pipa udara).
2.        Atresia Ani
Atresia ani atau anus imperforata disebut sebagai malformasi anorektal, adalah suatu kelainan kongenital tanpa anus atau dengan anus tidak sempurna, termasuk Agenesis ani, Agenesis rekti dan Atresia rekti. Insiden 1:5000 kelahiran  yang dapat muncul sebagai penyakit tersering  yang merupakan syndrom VACTRERL (Vertebra, Anal, Cardial, Esofageal, Renal, Limb).
Malformasi anorektal mencakup spetrum luas defek-defek pada pembentukan saluran makanan dan urogenital bagian paling bawah. Banyak anak-anak dengan malformasi ini dikatakan memiliki anus imperforata karena mereka tidak mempunyai lubang dimana anus seharusnya berapa. Walaupun istilah tersebut dapat secara akurat mendeskripsikan penampakan pada anak tersebut, selalu diyakini bahwa kebenaran kompleksitas dari malformasi tersebut jauh diatasnya. Ketika muncul malformasi pada anus, otot  dan saraf-saraf yang berhubungan dengan anus selalu memiliki derajat keterlibatan yang sama.
3.        Atresia Duodeni
Atresia Duodeni adalah obstruksi lumen usus oleh membran utuh, tali fibrosa yang menghubungkan dua ujung kantong duodenum yang buntu pendek, atau suatu celah antara ujung-ujung duodenum yang tidak bersambung.
4.        Hirschsprung Disease (HD)
Hirschsprung Disease (HD) adalah kelainan kongenital dimana tidak dijumpai pleksus auerbach dan pleksus meisneri pada kolon. Sembilan puluh persen (90%) terletak pada rectosigmoid, akan tetapi dapat mengenai seluruh kolon bahkan seluruh usus (Total Colonic Aganglionois (TCA). Tidak adanya ganglion sel ini mengakibatkan hambatan pada gerakan peristaltik sehingga terjadi ileus fungsional (SPM, sardjito) dan dapat terjadi hipertrofi serta distensi yang berlebihan pada kolon yang lebih proksimal ( IKA UI).
Pasien dengan penyakit Hirschsprung pertama kali dilaporkan oleh Frederick Ruysch pada tahun 1691, tetapi yang baru mempublikasikan adalah Harald Hirschsprung yang mendeskripsikan megakolon kongenital pada tahun 1886. (Yoshida, 2004). Namun patofisiologi terjadinya penyakit ini tidak diketahui secara jelas hingga tahun 1938, dimana Robertson dan Kernohan menyatakan bahwa megakolon yang dijumpai pada kelainan ini disebabkan oleh gangguan peristaltik dibagian distal usus akibat defisiensi ganglion (Irwan, 2003).

G.      Genetalia
1.        Fimosis
Fimosis merupakan pengkerutan atau penciutan kulit depan penis. Fimosis merupakan suatu keadaan normal yang sering ditemukan pada bayi baru lahir atau anak kecit, dan biasanya pada masa pubertas akan menghilang dengan sendirinya.
Pada pria yang lebih tua, fimosis bisa terjadi akibat iritasi menzhun. Fimosis bisa mempengaruhi proses berkemih dan aktivitas seksual. Biasanya keadaan ini diatasi dengan melakukan penyunatan (sirkumsisi).
Fimosis adalah penyempitan pada prepusium. Kelainan ini juga menyebabkan bayi/anak sukar berkemih. Kadang-kadang begitu sukar sehingga kulit prepusium menggelembung seperti balon. Bayi/anak sering menangis keras sebelum urine keluar. Keadaan demikian lebih baik segera disunat, tetapi kadang orang tua tidak tega karena bayi masih kecil. Untuk menolongnya dapat dicoba dengan melebarkan lubang prepusium dengar, cara mendorong ke belakang kulit prepusium tersebut dan biasanyaa akan terjadi luka.
Untuk mencegah infeksi dan agar luka tidak merapat lagi pada luka tersebut dioleskan salep antibiotik. Tindakan ini mula-mula dilakukan oleh dokter. Selanjutrnya di rumah orang tua sendiri diminta tnelakukannya seperti yang dilakukan dokter (pada orang Barat, sunat dilakukan pada seorangbayi laki-laki ketika masih dirawat/ ketika baru lahir. Tindakan ini dimaksudkan untuk kebersihan/mencegah infeksi karena adanya smegma, bukan karena keagamaan).
2.        Hipospadia
Hipospadia adalah salah satu kelainan bawaan pada anak-anak yang sering ditemukan dan mudah untuk mendiagnosanya, hanya pengolahannya harus dilakukan oleh mereka yang betul-beul ahli supaya mendapatkan hasil yang memuaskan.
Bentuk hipospadia yang lebih berat terjadi jika lubang uretra terdapat di tengah bantang penis atau pada pangkal penis dan kadang pad skrotum (kantung zakar) atau di bawah skrotum. Kelainan ini sering kali berhubungan dengan kardi, yaitu suatu jaringan fibrosa yang kencang yang menyebabkan penis melengkung ke bawah pada saat ereksi.
Pada hipospadia muara orifisium uretra eksterna (lubang tempat air seni keluar) berada diproksimal dari normalnya yaitu pada ujung distal glans penis, sepanjang ventral batang penis sampai perineum. Jadi lubang saluran kencing letaknya bukan pada tempat yang semestinya dan terletak di sebelah bawah penis bahkan ada yang terletak di rentang kemaluan.
Hipospadia sering disertai kelainan bawaan yang lain, misalnya pada scrotum dapat berupa undescensus testis, meorchisdism, disgenesis testis dan hidrotole pada penis berupa propenil scrotum mikrophalasus dari torsi penile. Sedang kelainan ginjal dan ureter berupa fused kidney, malrotasi, duplek dan refluk ureter.
Adanya smegma pada ujung prepusium juga menyulitkan bayi berkemih maka setiap memandikan bayi hendaknya prepusium didorong ke belakang kemudian ujungnya dibersihkan dengan kapas yang telah dijerang dengan air matang.


3.        Mikropenis
Mikropenis adalah suatu kelainan pada pria berupa pertumbuhan penis lebih kecil daripada yang seharusnya. Seorang pria dikatakan memiliki mikropenis apabila panjang penisnya kurang dari 2,5 standar deviasi rata-rata ukuran penis pria normal pada usia tertentu. Acuan ukuran yang dapat dipakai adalah apabila ukuran penis kurang dari 2 cm saat kelahiran, 2,5 cm saat berusia satu tahun, 4 cm pada masa pubertas, dan 10 cm di akhir masa pubertas atau saat dewasa. Hal ini dapat disebabkan karena faktor hormonal sejak seorang anak masih dikandung, salah satunya adalah kekurangan hormon androgen pada kehamilan dini.
4.        Ambiguous Genitalia (Kelamin ganda)
Kelamin ganda (ambiguous genitalia) adalah suatu kejadian langka dimana alat kelamin bayi tidak jelas sebagai alat kelamin laki laki atau perempuan. Pada penderita kelamin ganda, alat kelamin tidak tumbuh sempurna atau bayi tersebut mempunyai dua buah alat kelamin, yaitu alat kelamin laki laki dan perempuan. Pada penderita kelamin ganda, alat kelamin yang ada di luar tubuh mungkin tidak sama dengan jenis alat kelamin yang ada di dalam tubuh. Misalnya, meskipun diluar seperti alat kelamin perempuan, namun tubuh bagian dalam tidak punya rahim atau indung telur.
Kelamin ganda bukanlah suatu penyakit tetapi merupakan suatu gangguan pertumbuhan dari alat kelamin seseorang ketika masih janin (bayi).  Kelamin ganda biasanya segera diketahui setelah bayi lahir. Kondisi tersebut sering membuat cemas kedua orang tua si bayi.
Gejala dari kelamin ganda (ambigous genitalia), pada bayi yang secara genetika seorang perempuan (kedua chromosome XX), maka terlihat clitoris yang membesar yang sering dikira sebagai penis, bibir bawah yang tertutup atau seperti lipatan hingga dikira sebagai scrotum, benjolan dibawah kelamin yang dikira sebagai testis.
Pada bayi yang secara genetis adalah laki laki, maka gejalanya adalah: saluran kencing tidak sampai ke depan penis (berhenti dan keluar ditengah atau dipangkal penis), penis sangat kecil dengan lubang saluran kencing dekat dari scrotum, testis tidak ada atau hanya ada satu buah.
Penyebab dari ambiguous genitalia adalah karena terjadinya gangguan pertumbuhan alat kelamin ketika masih didalam rahim ibu. Pada bayi yang secara genetika berkelamin perempuan, ketika dalam pertumbuhannya mendapat banyak hormon laki laki sehingga pertumbuhan alat kelamin menjadi melenceng. Begitu pula dengan bayi yang secara genetika adalah laki laki, bila ketika sedang dalam masa pertumbuhan alat kelamin mendapat banyak hormon perempuan maka pertumbuhan alat kelamin laki lakinya menjadi tidak sempurna atau melenceng ke alat kelamin laki laki.
5.        Testis tidak turun
Sewaktu masih dalam kandungan, testis bayi laki-laki terbentuk di dalam rongga perutnya. Pada saat lahir, kedua testis seharusnya sudah turun ke dalam buah zakar. Akan tetapi, kadang-kadang ini tidak terjadi. Satu atau kedua testis tersangkut di tengah-tengah proses. 
6.        Hidrokel
Ini adalah masalah umum lainnya yang hanya menyerang anak laki-laki. Hidrokel adalah benjolan berisi cairan di dalam skrotum di sekitar testis. Benjolan ini biasanya tidak berbahaya dan akan hilang dengan sendirinya pada usia setahun atau bahkan sebelum itu.
H.      Ektremitas
1.        Dislokasi panggul kongenital (Congenital Dislocation of the Hip/CDH)
Pada kondisi ini, panggul bayi tidak terbentuk sepenuhnya sehingga bagian bulat dari sendi panggulnya mudah bergeser dari sambungan sendi. Kelainan ini dialami oleh sekitar 1 dari 1.000 bayi dan lebih umum dijumpai pada anak perempuan ketimbang anak laki-laki. Bayi yang berisiko CDH adalah yang lahir dalam keluarga dengan riwayat CDH, kelahiran sungsang, dan bayi dengan talipes (bayi yang lahir dengan kaki yang bengkok ke bawah.
2.        Talipes atau Club foot
Beberapa bayi dilahirkan dengan kondisi kaki yang bengkok ke bawah atau ke arah dalam. Kondisi ini dideskripsikan sebagai talipes posisional atau club foot. Kondisi ini dapat dikoreksi melalui pemijatan dan perentangan pergelangan kaki.
3.        Sindaktili
Sindaktili merupakan kelainan jari berupa pelekatan dua jari atau lebih sehingga telapak tangan menjadi berbentuk seperti kaki bebek atau angsa (webbed fingers).
Sindaktili merupakan kelainan bawaan yang paling sering ditemukan pada jari-jari tangan, jari-jari tidak terpisah, dan bersatu dengan yang lain. Dapat terjadi hubungan satu, dua, atau lebih jari-jari. Hubungan jari-jari dapat terjadi hanya pada kulit dan jaringan lunak saja, tetapi dapat pula terjadi hubungan tulang dengan tulang. (Muttaqin, 2008).
4.        Polidaktili
Polidaktili merupakan kelainan pertumbuhan jari sehingga jumlah jari pada tangan atau kaki lebih dari lima. Dikenal juga dengan nama hiperdaktili. Bila jumlah jarinya enam disebut seksdaktili, dan bila tujuh disebut heksadaktili. Polidaktili terjadi pada 1 dari 1.000 kelahiran.
Penyebabnya bisa karena kelainan genetika atau faktor keturunan, sehingga kelainan ini tidak dapat dilakukan pencegahan. Bentuknya bisa berupa gumpalan daging, jaringan lunak, atau sebuah jari lengkap dengan kuku dan ruas-ruas yang berfungsi normal. Tapi, umumnya hanya berupa tonjolan daging kecil atau gumpalan daging bertulang yang tumbuh di sisi luar ibu jari atau jari kelingking. Kelebihan jari pada sisi ibu jari lebih banyak daripada sisi jari kelingking.
5.        Brakidaktili
Brakidaktili adalah kelainan berupa pertumbuhan jari yang lebih pendek dari ukuran normal akibat kelainan genetika yang diturunkan dari sebuah gen dominan. Artinya, bila salah satu orang tua memiliki gen ini, si anak pasti akan mengalami kelainan jari-jari ini. Brakidaktili terjadi pada 1 dari 4.000 kelahiran.